Salaf Dan Perdebatan
Abu Al-Jauzaa' :, 26 Agustus 2009
Di antara hal-hal yang diingkari oleh para ulama salaf adalah perdebatan, perselisihan, serta berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Perbuatan ini bukanlah merupakan kebiasaan para imam Islam (kalangan salaf). Ia hanyalah kebiasaan yang diada-adakan setelah mereka, sebagaimana yang dilakukan olehfuqahaa’ ‘Iraq dalam permasalahan khilafiyyah antara Syafi’iyyah dan Hanafiyyah. Mereka menulis buku-buku tentang khilaaf dan memperluas pembahasannya, serta memperpanjang perdebatan di dalamnya. Semua itu adalah muhdats yang tidak ada asalnya (dalam Islam). Akan tetapi hal itu telah menjadi bagian ilmu mereka hingga menyibukkan mereka dari ilmu yang bermanfaat.
Para ulama salaf telah mengingkari dan membantah kebiasaan perdebatan/berbantah-bantahan (yang dilakukan sebagian orang) melalui hadits marfu’ dalam kitab Sunan :
ما ضل قوم بعد هدى إلا أوتوا الجدل ثم قرأ (ما ضَرَبوهُ لَكَ إِلّا جَدَلاً بَل هُم قَومٌ خَصِمون)
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka berjalan di atas petunjuk, kecuali setelah mereka terjatuh dalam perdebatan”. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat : “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”
[Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3250, Ibnu Majah no. 48, Al-Haakim 2/447-448, Ahmad 5/252, dan Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 8067; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ no. 5633].