Ali Bin Abi Tholib : Muawiyyah Adalah Saudara Se-Iman, Sama Dengan Dirinya
Abu Al-Jauzaa' :, 24 November 2010
“Awal-mula mula urusan kami, kami dan orang-orang Syaam (yaitu kubu Mu’aawiyyah) bertemu. Dan yang terang/nampak bahwasannya Rabb kami adalah satu, Nabi kami adalah satu, dan dakwah kami dalam Islam adalah satu. Dan kami tidak melebihkan diri kami dibandingkan mereka dalam hal keimanan kepada Allah dan pembenaran kepada Rasul-Nya, dan mereka pun juga demikian. Urusan kami adalah satu, kecuali apa yang kami perselisihkan padanya tentang darah ‘Utsmaan (yang terbunuh secara dhalim). Dan kami berlepas diri darinya…..” [Nahjul-Balaaghah, 3/648, surat no. 58].
Abu Al-Jauzaa' :, 24 November 2010
Lho kok bisa begitu ? Simak perkataannya dalam kitab Nahjul-Balaaghah, kitab yang dianggap mu’tamad oleh orang-orang Syi’ah :
وَكَانَ بَدْءُ أَمْرِنَا أَنَّا الْتَقَيْنَا وَالْقَوْمُ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ، وَالظَّاهِرُ أَنَّ رَبَّنَا وَاحِدٌ (1) ، وَنَبِيَّنَا وَاحِدٌ، وَدَعْوَتَنَا فِي الْإِِسْلاَمِ وَاحِدَةٌ، لاَ نَسْتَزِيدُهُمْ (2) فِي الْإِيمَانِ باللهِ وَالتَّصْدِيقِ بِرَسُولِهِ، وَلاَ يَسْتَزِيدُونَنَا: الْأَمْرُ وَاحِدٌ، إِلاَّ مَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ مِنْ دَمِ عُثْمانَ، وَنَحْنُ مِنْهُ بَرَاءٌ!
“Awal-mula mula urusan kami, kami dan orang-orang Syaam (yaitu kubu Mu’aawiyyah) bertemu. Dan yang terang/nampak bahwasannya Rabb kami adalah satu, Nabi kami adalah satu, dan dakwah kami dalam Islam adalah satu. Dan kami tidak melebihkan diri kami dibandingkan mereka dalam hal keimanan kepada Allah dan pembenaran kepada Rasul-Nya, dan mereka pun juga demikian. Urusan kami adalah satu, kecuali apa yang kami perselisihkan padanya tentang darah ‘Utsmaan (yang terbunuh secara dhalim). Dan kami berlepas diri darinya…..” [Nahjul-Balaaghah, 3/648, surat no. 58].
Perlu diketahui, dikatakan bahwa perkataan itu diucapkan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu setelah perang Shiffiin.
Apa yang kita dapat dari penjelasan di atas ?
Menurut ‘Aliy bin Abi Thaalib, orang-orang Syaam (dan Mu’aawiyyah adalah pemimpin mereka) termasuk saudaranya seiman, sama seperti dirinya. Ia masih mengakui hal itu, meskipun perang Shiffiin telah ia lewati bersama Mu’aawiyyah radliyallaahu ‘anhumaa.
